Mari Menulis dan Berbagi

"menulislah apa yang ingin kau tuliskan. karena dengan itulah kau akan dikenang"

Sabtu, 19 November 2011

Tugu Muda dan Dua Dunia

Sejak pindah domisili ke daerah Semarang Barat, mau tidak mau saya lebih sering melewati Tugu Muda. Hhmm..tidak usah tanya apa yang saya lihat di sana (selain tugu dan air mancur tentunya). Pemda pun sepertinya mendukung dan memfasilitasi agar Tugu Muda menjadi tempat wisata yang menarik. Dan benar saja, banyak orang, mulai anak-anak, remaja, dan orang tua  nongkrong di sana. Ada yang sekedar berfoto-foto, bahkan pacaran...!! Saya pun juga pernah melakukannya, tapi hanya sekali, hehehe...

                                                *) foto saya dan teman-teman SMP 3 tahun lalu

Tapi setahun belakangan, saat aku sering melewati daerah itu..aku mulai berpikir. Dulu kan itu tempat perang, tempat pertempuran..Hiiiiiii...tak terbayang bagaimana keadaan tempat ini dulu. Mayat, darah, suara tembakan, asap bom...!!! Oh God.. :((
Sedangkan sekarang??!!
Tidak perlu saya jelaskan bagaimana sekarang. Semua orang Semarang pasti tahu bagaimana Tugu Muda sekarang. Aduuuhhh...hati saya agak risih memikirkannya.

Nah, kebetulan semalam saat mengganti-ganti channel tv, saya berhenti di sebuah acara Reality Show yang berjudul DUA DUNIA. 
Mengambil tema kepahlawanan, mereka melakukan hunting di daerah Tugu Pahlawan Surabaya. Saya yakin, tempat itu tidak berbeda jauh dengan Tugu Muda.

Kronologisnya, seorang kyai dan presenter melakukan mediasi. Seorang peserta / mediator yang kesurupan menjadi sumber informasi yang menarik. Sayangnya, saya cari-cari videonya di YouTube tidak ketemu.
Saya tuliskan garis besarnya saja ya,,

Kyai         :  Kamu siapa?
Mediator  :  Aku pejuang (suaranya berat sambil menangis meraung-raung)
Kyai         :  Apa yang pernah terjadi di sini pada saat jaman penjajahan?
Mediator  :  (kali ini menjawab dengan bahasa jawa) Banyak orang dibunuh. Di tempat itu (dia menunjuk   arah museum) banyak dikubur kepala-kepala yang dipenggal.
Kyai         :  Dimana yang paling banyak terjadi pembantaian?
Mediator  :  Itu...di sana...di jembatan darah (jembatan merah). Penjajah tidak pernah mengenal ampun. Tua muda, anak-anak, semua dibunuh. Tidak diberi makan. Kami semua sengsara. Tapi sekarang orang-orang malah bersenang-senang. Banyak melakukan hal tidak berguna di tempat ini.(dia menangis lagi, nelangsa..)
Negara ini berhutang pada kami, para pejuang.
Kyai         :  Apa yang kalian harapkan dari orang sekarang?
Mediator  :  Kami minta doa..dan meneruskan perjuangan kami!! Jangan hanya melakukan hal-hal yang tidak berguna.

Setelah arwah pejuang itu keluar dari tubuh mediator, seorang kru kembali kesurupan...Yang ini agak aneh bagi saya. Berbeda dengan mediator sebelumnya, dia berbicara dengan bahasa Indonesia. Bahkan bahasa yang sangat bagus, modern dan agak puitis alias lebay, heheheee...Kurang lebihnya apa yang dia bicarakan sama dengan moderator tadi.

Terlepas dari benar / tidaknya 'kesurupan' itu, juga mengingat banyaknya Reality Show yang berubah menjadi Drama Reality Show, dialog tadi tetap membuat saya merenung.

Bahwa, kita dan negara kita...berhutang banyak pada para pejuang.....
Dan bukankah hutang budi bahkan hutang nyawa tidak dapat terbalaskan????








Jumat, 18 November 2011

Sapu Tangan

Semalam, tanpa direncana saya berbelanja dengan kedua adik perempuan saya yang masih kelas empat SD. Saat berada di rak-rak handuk, salah satu dari mereka bercerita bahwa teman-teman perempuannya di sekolah sekarang ini sedang booming membawa handuk kecil yang dibawa kemana-mana, untuk menutupi hidung atau
sekedar dibawa-bawa saja.
"Oh...itu namanya sapu tangan," jelas saya. Setahu mereka sapu tangan hanya berbentuk kain tipis kecil (seperti yang biasanya dipakai bapak-bapak waktu kondangan :)) tidak berupa seperti kain handuk yang tebal dan lembut.
Akhirnya, kami membeli dua saputangan kecil warna biru & pink....

Bukan itu saja,
Saya jadi teringan saat-saat SD dulu. Sapu tangan yang sama persis. Teman-teman perempuan saya 'demam' sapu tangan waktu itu. Kalau tidak salah, penyebabnya adalah sinetron remaja yang judulnya LUV yang bernama Stefy. Siswa SMA yang kemana-mana selalu membawa sapu tangan dengan gaya centil. Sinetron yang menjadi tren saat itu langsung saja menular ke anak-anak remaja bahkan teman-teman saya yang masih SD. Sepulang sekolah, saya merengek-rengek kepada ibu saya agar dibelikan sapu tangan. Saat itu harga pasarannya hanya 1.500 rupiah. Sapu tangan pertama saya berwarna pink dengan gambar Winnie The Pooh. Besoknya, di sekolah saya langsung pamer dan bergabung dengan teman-teman saya penggemar Stefy :)

                                           *) kira-kira seperti ini, tapi gambarnya Winnie The Pooh

Hhmm..sayangnya beberapa kali browsing di google tidak menemukan gambar Stefy :(

Tapi kebiasaan membawa sapu tangan hanya berlangsung beberapa bulan saja. Apalagi sekarang, jangangkan sapu tangan, tissue saja sudah sangat merepotkan bagi saya. Biasanya...teman setia saya yang selalu membawakan sapu tangan untuk saya....(thanks to my husband), heheheee....

Kamis, 17 November 2011

Ayo Menulis Lagi!!!!!

Sebenarnya ini hanya blog coba2. Mengingat aku tidak lagi seperti dulu yang suka menulis dan penuh dengan ide2/inspirasi (dulu aku pernah juga punya blog..tapi sudah tidak aktif lagi) Yah, sepertinya otakku saat ini kosong. Atau malah terlalu penuh sampai overload dan tidak bisa berpikir ringan (alias banyak beban pikiran, hehe). Dan anehnya, di saat seperti ini justru pola kepribadianku agak banyak mengalami perubahan. dari yang sebelumnya introvert menjadi extrovert. Pertanda bagus kah itu? Entahlah!! Setidaknya hidupku lebih terasa ringan (sementara badan malah tambah berat).

Pernah seorang temanku bilang : "Menulislah apa yang ingin kau tulis. Apapun itu. Cara tangan berbicara lebih jujur dan berpihak pada diri kita, ketimbang mulut yang berbicara." Nah, dari situlah blog ini akhirnya kubuat. Selain itu, untuk menghargai tulisan2ku sendiri. Mengingat data2 tulisan yang sering hilang..

Yah, apa salahnya aku yang seorang melankolis kini merambah ke dunia "lebay"????

Perlunya Membuka Mata...Melihat Dunia...



Jangan takut dulu, tidak perlu harus Go International alias pergi ke luar negeri untuk dapat melihat dunia. Sekarang kan jaman 'multimedia'. TV kabel dengan harga sangat terjangkau menjamur kemana-mana, tentunya memanjakan kita dengan tayangan-tayangan dari seluruh penjuru dunia. Internet?? Wah..jaman sekarang kalau tidak kenal internet bakal dibilang"ndeso" sama Mr. Tukul lho... :) Malahan teman saya ada mengatakan "Internet itu seperti kaki tangannya dewa, dia tahu dan bisa melakukan banyak hal" Whooaaa.....
 Tapi akhir-akhir ini saya sering bilang "Aduuhhh...mabok internet nih" gara-gara pekerjaan yang menuntut saya ber-internet ria selama 8 jam setiap hari.

Kembali ke 'Melihat Dunia'..Dulu saya pernah menulis status di facebook :"dunia ini luas kan Tuhan,kenapa aku cuma kebagian tempat yang sempit?kenapa ada banyak hal di luar sana yg tak bisa kulihat, kurasakan, dan kulakukan"

Setiap bertemu orang baru, bekerja di bidang baru, mengikuti seminar dan pembelajaran mengenai hal baru..saya selalu merasa betapa sempitnya pikiran saya. Batapa banyak hal di luar sana yang tidak saya ketahui. Betapa rumitnya otak saya bekerja untuk memasukkan semua itu ke dalamnya. Intinya, SAYA MERASA SANGAT KUPER. Kurang pergaulan dan pengetahuan.

Tapi, pernah ada seorang teman berkata : "Wah, ternyata wawasanmu luas ya.."
Tahu apa yang membuat dia berkata begitu??
Coba tebak..!!!
Hanya karena saya bercerita tentang tambang batubara di Kalimantan. Dan itu pun juga hanya meneruskan cerita teman-teman saya yang bekerja disana, bukan pengalaman pribadi.
Bukannya bangga dengan pujian teman saya itu, saya justru bingung...

Tapi saya beruntung pernah bertemu orang-orang hebat sehingga mataku semakin terbuka.
Dan inilah jawaban Tuhan akan status facebook-ku...
Dia tidak memberiku tempat yang luas, tapi orang-orang yang menjadi jendelaku untuk melihat ke dunia yang luas...




* pic by Roger Green's Album